
Portofolio itu seperti “etalase” kamu. Orang bisa belum kenal kamu, belum pernah lihat kamu kerja, tapi dari portofolio mereka bisa langsung paham: gaya kamu apa, hasilnya rapi atau tidak, dan kamu cocok nggak buat kebutuhan mereka. Kabar baiknya, portofolio nail art nggak harus mewah dulu. Yang penting jelas, konsisten, dan bikin calon klien percaya.
Tentukan arah dan target klien
Mulai dari satu pertanyaan: kamu mau dikenal sebagai nail artist yang seperti apa? Minimalis nude? Korean jelly nails? Glam dengan rhinestone? Atau custom karakter? Pilih 1–2 gaya utama dulu supaya portofolio kamu “punya wajah”. Setelah itu, bayangin target kliennya: mahasiswa, pekerja kantoran, bride-to-be, atau pecinta nail art bold. Target ini akan ngaruh ke pilihan desain, tone warna, sampai cara kamu menulis caption.
Kurasi karya, jangan unggah semuanya
Banyak orang bikin portofolio seperti galeri campur aduk: semua desain masuk, termasuk yang kurang rapi. Padahal klien menilai dari yang mereka lihat. Pilih 12–20 karya terbaik sebagai “hero”. Sisanya boleh jadi arsip di highlight atau album terpisah. Triknya: tampilkan variasi level (simple, medium, intricate) supaya klien tahu kamu fleksibel, tapi tetap dalam gaya yang sama.
Foto yang bikin orang percaya
Nail art sebagus apa pun bisa terlihat biasa kalau fotonya gelap. Nggak perlu kamera mahal; HP pun cukup asal pencahayaan oke. Ambil foto dekat (detail), foto jarak sedang (lihat keseluruhan tangan), dan satu foto lifestyle (misalnya pegang kopi atau tas) biar kelihatan nyata. Pakai cahaya alami dekat jendela, latar polos, dan hindari filter berlebihan. Kalau bisa, jaga tone warna konsisten supaya feed terlihat rapi.
Tulis cerita singkat di tiap karya
Caption bukan sekadar “nail art done”. Tuliskan: jenis layanan (gel/polygel/press on), estimasi durasi, inspirasi desain, dan catatan kecil seperti “cocok buat tangan pendek” atau “warna aman untuk kantor”. Ini membantu calon klien membayangkan hasil di dirinya sendiri. Bonus: cantumkan perawatan setelahnya (misal hindari air panas lama, pakai cuticle oil).
Susun format portofolio yang mudah diakses
Paling simpel: Instagram + highlight (Price, Booking, FAQ, Aftercare, Testimoni). Kalau kamu menerima order serius, buat juga PDF 3–5 halaman yang bisa dikirim via WhatsApp: profil singkat, layanan, contoh desain, dan cara booking. Kalau mau naik level, landing page satu halaman sudah cukup, yang penting link-nya gampang dibuka.
Tambahkan bukti sosial dan proses kerja
Klien suka bukti nyata. Minta izin untuk foto “before–after”, screenshot testimoni, atau video proses singkat (prep kuku, base, detail, top coat). Tampilkan juga standar kebersihan: alat steril, buffer sekali pakai, atau penggunaan sarung tangan. Hal-hal kecil ini sering jadi pembeda saat klien memilih.
Bangun portofolio walau klien belum ramai
Kalau kamu masih baru, bikin portofolio pakai model teman atau set latihan di tangan sendiri. Buat mini-collection 3 tema: office-friendly, weekend glam, dan event/bridal. Catat detailnya seperti melayani klien sungguhan: durasi, produk yang dipakai, plus tips aftercare. Tambahkan range harga (simple–detail) dan apa yang termasuk, misalnya nail prep dan free repair 3 hari. Transparansi ini bikin calon klien merasa aman, sekaligus menunjukkan kamu paham proses, bukan cuma hasil. Kalau perlu, sisipkan aturan booking: DP, jadwal tersedia, dan batas reschedule, supaya komunikasi lebih enak dari awal. Biar jelas.
BACA JUGA: Peluang Karier di Dunia Nail Artist yang Jarang Diketahui