Kuku palsu itu praktis: sekali pasang, tangan terlihat rapi, panjangnya seragam, dan nail art jadi kelihatan “niat” tanpa harus nunggu kuku asli tumbuh. Kamu juga bisa ganti model cepat, dari press-on pakai lem sampai akrilik/gel di salon. Tapi karena ia menutup kuku asli dan melibatkan bahan kimia, ada beberapa risiko yang layak kamu perhatikan supaya cantik tetap aman.
Iritasi dan alergi dari lem atau bahan kimia
Keluhan paling umum biasanya gatal, perih, kemerahan, atau kulit sekitar kuku terasa panas. Ini bisa terjadi karena lem, primer, atau bahan akrilik/gel mengandung zat yang memicu alergi pada sebagian orang. Reaksinya kadang muncul pelan: awalnya cuma kering, lalu jadi mengelupas, bengkak ringan, atau muncul bintik kecil di sekitar kutikula. Kalau kamu punya kulit sensitif atau pernah alergi kosmetik, coba “tes tempel” dulu: pasang di satu kuku selama 24–48 jam dan lihat reaksinya.
Infeksi jamur dan bakteri karena “ruang lembap” di bawah kuku
Kuku palsu bisa membentuk celah tipis antara kuku asli dan lapisan kuku palsu, terutama kalau sudah mulai terangkat (lifting). Celah ini gampang jadi tempat air, keringat, sabun sisa, dan kotoran “ngumpet”. Kondisi lembap adalah favorit jamur dan bakteri. Tandanya bisa berupa kuku berubah warna kekuningan/kehijauan, bau kurang enak, rasa gatal, atau nyeri saat ditekan. Kalau kamu sering berkegiatan yang bikin tangan basah (masak, cuci piring, olahraga), risikonya makin besar.
Kuku asli jadi tipis, rapuh, dan mudah patah
Proses pemasangan dan pelepasan yang kasar adalah “musuh” kuku asli. Mengikir permukaan kuku terlalu agresif, menarik kuku palsu paksa, atau merendam dengan aseton terlalu lama bisa bikin lapisan kuku terkikis. Akibatnya kuku jadi mudah sobek, terasa ngilu, dan permukaannya bergelombang. Kuku yang menipis juga lebih gampang pecah saat mengetik atau membuka benda keras. Pemulihan bisa butuh waktu berminggu-minggu, jadi kuku bisa terasa “lemes” setelah beberapa kali pasang.
Kutikula rusak dan kulit sekitar kuku gampang luka
Kutikula itu bukan sekadar “kulit tipis yang ganggu”, tapi pelindung alami supaya kuman tidak gampang masuk ke pangkal kuku. Kalau kutikula sering dipotong habis atau terdorong terlalu keras saat manicure, area itu jadi lebih rentan iritasi dan infeksi. Luka kecil yang kelihatan sepele bisa jadi pintu masuk bakteri, apalagi kalau kamu suka mengelupas kulit kering di sekitar kuku atau punya kebiasaan menggigit.
Aktivitas harian jadi kurang nyaman
Kuku yang terlalu panjang atau terlalu tebal bisa bikin kamu lebih sering nyangkut, retak, atau patah di tengah aktivitas dari pakai lensa kontak, mengetik, sampai buka kaleng. Patahan tajamnya bisa melukai kulit, dan kalau patahnya sampai “narik” kuku asli, rasanya bisa ngilu banget.
Kapan harus berhenti dan minta bantuan?
Kalau muncul bengkak berat, nyeri berdenyut, keluar cairan/nanah, atau warna kuku berubah drastis dan tidak membaik setelah dilepas, jangan ditunda. Ini bisa menandakan infeksi yang butuh penanganan.
Cara lebih aman kalau tetap ingin pakai
Pilih tempat yang bersih, alatnya steril, dan teknisinya tidak asal kikir. Jangan pakai kuku palsu terus-menerus; beri jeda beberapa hari sampai seminggu agar kuku pulih. Gunakan sarung tangan saat pekerjaan basah, dan keringkan tangan sampai kering setelah cuci tangan. Hindari melepas dengan cara ditarik; lebih baik rendam dan lepaskan perlahan.